Kabar
Pentingnya Peningkatan Literasi Matematika bagi Generasi Mendatang
PSKP, Jakarta - Literasi matematika (mathematical literacy) dan kemampuan numerasi (numeracy skill) merupakan hal yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya membantu dalam penalaran logis, pengelolaan dan penafsiran data, pemecahan masalah, serta pengambilan keputusan dengan tepat.
Pentingnya kemampuan numerasi dan strategi peningkatannya menjadi fokus pembahasan para praktisi pendidikan dalam SEAMEO Centres Policy Research Network (CPRN) Summit 2026. Forum yang digelar pada 10 Juni 2026 ini mengusung tema “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways Toward an Inclusive, Equitable, and Sustainable Future”.
Robert Randall, mantan CEO The Australian Curriculum, Assessment and Reporting Authority (ACARA) Australia dan International Advisor on Education menyampaikan bahwa kecakapan berhitung dan kemampuan literasi merupakan landasan utama untuk kemampuan teknis dan kompetensi sosial-emosional dalam mengembangkan diri secara personal maupun profesional.
Namun, data yang dijelaskan oleh Wanty Widjaja dari Indonesia–Australia Teacher Education Cooperation (IATEC) menunjukkan bahwa terjadi penurunan kemampuan literasi matematika murid di Australia dari tahun 2012 hingga 2022. Selain itu, terdapat perbedaan capaian pembelajaran yang sangat tinggi di antara negara-negara ASEAN.
Alejandro Sinon Ibañez dari Southeast Asia Primary Learning Metrics (SEA-PLM) menunjukkan bahwa di beberapa negara di Asia Tenggara, masih terdapat siswa kelas 5 yang tidak dapat menjawab pertanyaan matematika untuk kelas 1.
Selanjutnya, Irsyad Zamjani selaku Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) menjelaskan bahwa beberapa penyebab kesenjangan capaian numerasi disebabkan oleh faktor ekonomi siswa dan karakteristik wilayah, seperti pusat kota dan daerah terpencil.
Selain itu, Irsyad menunjukkan hasil studi diagnostik terhadap 8 SD yang mengungkap kesenjangan signifikan dalam penguasaan kemampuan berhitung dasar di kalangan pendidik. Studi tersebut menemukan tingginya tingkat kesalahan guru saat menjelaskan topik dasar seperti pecahan. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya motivasi para pendidik serta kurangnya ekosistem pendukung di daerah tersebut.
Bakti Utama, analis kebijakan PSKP, menambahkan bahwa pendidik mengalami kesulitan menjelaskan konsep numerasi dengan beragam metode dan merancang pembelajaran yang mampu mengatasi kesalahpahaman siswa.
Sejalan dengan hal itu, Yuna Puteri Kadarisman dari GPE Knowledge and Innovation Exchange (KIX) – MAN Insan Cendekia memaparkan faktor kesenjangan lain, yaitu pola pikir guru yang menganggap kecerdasan sebagai kemampuan bawaan, sehingga berdampak pada berkurangnya praktik pembelajaran terdiferensiasi dan dukungan remedial bagi murid.
Di sisi murid, Hadi Rachmat dari PSKP menunjukkan bahwa kesulitan utama terletak pada kemampuan memahami maksud dan istilah soal, menyaring informasi yang dibutuhkan untuk menjawab soal, menginterpretasikan data visual seperti tabel atau grafik, serta menghadapi soal cerita yang terlalu panjang.
Guna mengatasi berbagai kendala tersebut, Mark Heyward selaku penasihat pendidikan dan mantan direktur INOVASI memaparkan beberapa strategi untuk memperkecil kesenjangan pengetahuan, yaitu melalui pembelajaran berbasis media konkret, pendekatan kontekstual yang relevan dengan dunia nyata, metode yang menyenangkan berbasis permainan, serta aktivitas belajar kelompok.
Para Panelis CPRN 2026
Dalam merespons tantangan pembelajaran numerasi, Kemendikdasmen telah menginisiasi pendekatan pembelajaran yang menyenangkan melalui Gerakan Numerasi Nasional (GNN) dan pelatihan matematika GEMBIRA bagi guru. Matematika GEMBIRA (Gali dan Eksplorasi, Eksplorasi Konteks, Muat Konten, Buat Aktivitas, Ikuti Pemikiran Murid, dan Rayakan & Apresiasi) merupakan kerangka kerja untuk membuat pembelajaran matematika menjadi menyenangkan dan kontekstual.
Sementara dari sekolah, terdapat beberapa praktik baik penerapan strategi peningkatan kemampuan numerasi siswa.
Risqi Arilia Algae, Kepala SDU Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur, memprioritaskan penguatan numerasi di sekolahnya dengan melakukan peningkatan kapasitas guru dan dukungan kepemimpinan.
Risqi mengadakan diskusi kecil guna merefleksikan proses, mengenali masalah, dan merencanakan solusi bersama. Ia juga memberikan pendampingan langsung untuk mengevaluasi metode mengajar dan kendala belajar murid.
Selain itu, Risqi mengundang fasilitator untuk melatih guru mengembangkan pembelajaran berbasis permainan dan konsep KGA (Konkret-Gambar-Abstrak) agar siswa lebih mudah memahami matematika melalui objek nyata dan visualisasi. Sebagai pendukung, ia menyediakan bahan ajar seperti manik-manik, buku pengayaan, dan materi digital.
Sementara itu, Sivora Binti Abdul Rasit, guru SDN 029 Tarakan, Kalimantan Utara, menggunakan sistem virtual manipulative (VM) dari INOVASI dalam mendukung pemahaman numerasi. VM merupakan representasi digital dari alat peraga fisik (balok, kepingan, dan sebagainya) sehingga memungkinkan siswa untuk memahami konsep matematika secara visual dan interaktif melalui layar perangkat. Hal tersebut juga dapat membantu siswa fokus pada penjelasan guru. [Adisa Ramadhania Adiputri]