Kabar
Partisipasi Semesta Mendukung Pendidikan Bermutu untuk Semua
PSKP, Singapura – Mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua perlu keterlibatan banyak pihak, termasuk swasta, lembaga donor, dan organisasi filantropi. Dukungan partisipasi semesta ini memungkinkan peningkatan kualitas pendidikan dapat terjadi di level sistem dan menjangkau lebih banyak wilayah.
Irsyad Zamjani, Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), menekankan hal itu di acara Philanthropy Asia Summit (PAS) 2026 di Sands Expo and Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapura, 19 Mei 2026.
Irsyad diminta menyampaikan tantangan dan pengalaman Indonesia dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagai negara dengan sistem pendidikan yang besar, meliputi lebih dari 400 ribu satuan pendidikan dengan kondisi yang beragam, Indonesia memiliki tantangan yang tidak mudah.
Karena itu, pemerintah berupaya menerjemahkan ekspektasi kualitas pendidikan melalui Standar Nasional Pendidikan. Melalui standar ini, aspek konten seperti kurikulum dan proses pembelajaran, diharapkan dapat menjadi pegangan minimum untuk dilaksanakan di semua satuan pendidikan.
Tetapi Irsyad menggarisbawahi bahwa standard dan standardization merupakan dua hal berbeda. Standard mengacu pada hal-hal minimum yang ditetapkan sebagai acuan, sementara standardization biasanya merupakan upaya menerapkan standar secara seragam.
Dalam hal ini standar pendidikan lebih merupakan acuan untuk dicapai atau bahkan dilampaui, tetapi caranya dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dengan adanya standar ini, kita justru perlu mendorong guru dan sekolah untuk berinovasi dan melakukan kontekstualisasi.
Hal kedua yang telah diupayakan Indonesia adalah mengembangkan suatu sistem evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai informasi untuk perbaikan. Indonesia memiliki Asesmen Nasional untuk mengevaluasi sistem pendidikan, dan menjamin agar hasilnya digunakan oleh satuan pendidikan dan pemerintah daerah melalui Rapor Pendidikan.
Penyelarasan indikator lintas kementerian sebagai ukuran bersama untuk mencapai target pembangunan pendidikan, menjadi kunci pemanfaatan hasil asesmen tersebut. Ditambahkan juga, saat ini pemerintah juga memperkenalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk membantu guru memetakan capaian murid secara spesifik sesuai mata pelajaran dalam kurikulum dan menggunakan hasilnya untuk melakukan perbaikan pembelajaran.
Terakhir, partisipasi semesta menjadi kunci dalam menggerakkan ekosistem pendidikan. Perbaikan mutu pendidikan perlu jadi komitmen bersama dan ini hanya bisa muncul secara organik jika digerakkan dari bawah. Keterlibatan swasta, lembaga nonpemerintah, dan komunitas diharapkan mampu mempercepat perubahan di tingkat ekosistem untuk mendorong peningkatan kualitas belajar secara berkelanjutan.
Dua pembicara lainnya, Balakrisnan Venkatachalam selaku Presiden Pratham International dan Satish Menon yang merupakan Pejabat Senior Program Global Education, Gates Foundation India, juga menekankan pentingnya asesmen dan partisipasi berbagai pihak.
Pengalaman Pratham di India, menurut Balakrisnan memberi pemahaman bahwa asesmen menjadi hal penting dalam siklus perbaikan kualitas pendidikan. Sementara menurut Satish, hasil asesmen dapat memberi pemahaman tentang apa yang berhasil dan apa yang tidak. Hal ini dapat memandu pada intervensi yang lebih luas.
Dalam menggerakkan kebijakan dan praktik di lapangan, Balakrisnan memberi penekanan bahwa ekosistem pendidikan memerlukan dukungan semua orang. Sedangkan Satish menganggap bahwa inovasi dalam dunia pendidikan tidak muncul dalam ruang eksklusif, melainkan dalam ruang kolaborasi dengan berbagai entitas, termasuk lembaga filantopi yang mendukung pendanaan hingga mendorong perubahan sistem.
Lantas, hal-hal apa yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak untuk menjamin transformasi sistemik dapat terjadi dan mendorong perbaikan kualitas pendidikan?
Irsyad mengajukan tiga poin penting untuk menjawab hal tersebut. Pertama, semua pihak perlu fokus pada kecakapan fondasional, terutama literasi dan numerasi. Fokus ini menjadi penting untuk menyiapkan murid menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Kedua, asesmen sangat penting untuk mengetahui capaian hasil belajar murid, terutama di kelas awal. Deteksi dini dapat memandu upaya perbaikan dan intervensi yang diperlukan.
Ketiga, pemanfaatan teknologi untuk membantu murid, guru, dan pemerintah. Pemanfaatan teknologi dengan tepat akan memudahkan dan mempercepat upaya transformasi pembelajaran. [Lukman]