Kabar
Tingkatkan Profesionalisme Pembawa Acara di Lingkungan Kemendikdasmen: Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Gelar Pelatihan Public Speaking, Master of Ceremony
PSKP, Jakarta — Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyelenggarakan pelatihan public speaking, master of ceremony (MC) di Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin), Selasa, 21 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas dan profesionalisme sumber daya manusia dalam bidang komunikasi publik, khususnya kemampuan berbicara di depan publik untuk mendukung kelancaran berbagai acara resmi di lingkungan Kemendikdasmen.
Dengan menghadirkan dua narasumber profesional di bidang public speaking, peserta dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar hingga lanjutan terkait teknik membawakan acara, baik dalam konteks formal maupun semi-formal. Kedua narasumber yang merupakan news anchor dan presenter, Dian Mirza dan Gustav Aulia menyampaikan berbagai materi terkait kompetensi sebagai MC, mulai dari teknik pernafasan, penguasaan vokal dan intonasi, penggunaan bahasa tubuh, penyusunan alur (rundown) acara, hingga pembuatan cue card.
Lebih lanjut, peserta juga berkesempatan melakukan praktik langsung sebagai MC. Setiap peserta bergantian menyimulasikan peran membawakan acara, kemudian kedua narasumber memberikan umpan balik yang konstruktif.
Pelatihan ini disambut antusias oleh para peserta perwakilan setiap unit utama di lingkungan Kemendikdasmen yang dinilai memiliki potensi menjadi pembawa acara.
Salah satu perwakilan dari Sekretariat Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Dwi Vitasari selaku pengelola keprotokolan menyampaikan apresiasinya atas pengalaman bermanfaat dari pelatihan tersebut.
“Saya menjadi paham teknik dasar membawa acara, seperti pengaturan intonasi suara, artikulasi yang jelas, serta cara membangun suasana agar tetap hidup dan menarik. Selain itu, saya juga belajar bagaimana menyusun naskah acara yang runtut, menggunakan bahasa yang formal maupun santai sesuai dengan jenis kegiatan. Paling penting adalah mengelola rasa gugup saat tampil di depan umum agar tetap tampil dengan percaya diri,” terangnya.
Menanggapi Dwi, Dian Mirza menekankan bahwa menjadi MC tidak cukup hanya dengan menguasai teori dan teknik, tetapi juga memerlukan pengalaman atau “jam terbang”.
“Bukan orangnya yang [harus] menjadi sempurna, tetapi berani salah, jangan takut, lanjut terus. Pembicara yang baik itu [memiliki sikap] percaya diri dan tenang,” tegas Dian.
Perwakilan dari Badan Bahasa, Devi Virhana sebagai pranata humas menambahkan, “Saya merasa sangat senang dapat terlibat dalam pelatihan ini. Pengalaman ini sangat berharga dan luar biasa karena dimentori langsung oleh profesional di bidang public speaking, master of ceremony. Paling penting adalah praktik langsung di depan mentor, dan real time mendapat feedback dari mentor. Pelatihan ini harus berkelanjutan.”
Di lingkungan Kementerian, peran MC sangat strategis dalam memandu acara maupun memastikan kelancaran protokol kenegaraan. Dengan menciptakan suasana yang tertib, komunikatif, dan berkesan, peningkatan kompetensi di bidang ini menjadi investasi krusial guna mendukung citra profesional institusi di mata publik maupun pemangku kepentingan. [Linda Efaria]