Kabar
Mendorong Pembelajaran Bermakna, PSKP Kaji Implementasi Pembelajaran STEM di Satuan Pendidikan Kota Kupang
PSKP, Kupang – Pembelajaran berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi kunci penting dalam menggeser pola belajar hafalan menuju penguatan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah. Melalui pendekatan ini, murid diajak mengidentifikasi masalah nyata, merancang solusi inovatif, serta melakukan pengukuran ilmiah secara kontekstual demi memenuhi Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian Pendidikan.
Untuk memotret implementasi tersebut, Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikdasmen menggelar Diskusi Praktik Pembelajaran STEM di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Senin, 5 Mei 2026.
Kota Kupang dipilih karena dinilai mampu merepresentasikan karakteristik wilayah pesisir sekaligus potret pendidikan di kawasan Indonesia bagian timur. Diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion) diadakan di Hotel Harper Kupang dengan menghadirkan para kepala sekolah dan guru SD–SMP (negeri dan swasta) yang telah menerapkan STEM. Selanjutnya, dilakukan juga observasi ke Sekolah Lentera Harapan guna mendapatkan gambaran langsung pembelajaran di kelas.
Melalui kajian ini, PSKP berharap dapat memetakan praktik baik, faktor pendukung, serta tantangan implementasi STEM di lapangan sebagai bahan evaluasi kebijakan pendidikan ke depan.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Oktovianus Naitboho membuka acara dengan mengapresiasi kajian yang diinisiasi PSKP dan menegaskan pentingnya penguatan metode pembelajaran kontekstual yang bermakna.
"Melalui STEM, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena mampu menghubungkan pengetahuan teoretis dengan kebutuhan dan tantangan kehidupan nyata abad ke-21," ujarnya.
Tantangan dan Strategi Implementasi di Sekolah
Pada sesi diskusi kelompok, para kepala satuan pendidikan berbagi pengalaman mengenai proses awal mengenal dan mengimplementasikan STEM di sekolah. Meski berdampak positif, para kepala sekolah mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti belum meratanya pemahaman guru, keterbatasan waktu, minimnya sarana dan prasarana, serta dukungan pendanaan yang perlu diperkuat.
Untuk menyiasatinya, sekolah mengoptimalkan komunitas belajar, menggelar lesson study, dan rutin berbagi praktik baik. Implementasi STEM juga disiasati dengan prinsip 3M (Mudah, Murah, dan Menggembirakan) agar pembelajaran tetap kontekstual dan efektif di tengah keterbatasan sumber daya.
Diskusi Penerapan Pembelajaran STEM bersama Kepala Sekolah dan Guru
Potret Pembelajaran di Kelas
Sementara itu, pada sesi kelompok guru, diskusi berfokus pada teknis pembelajaran sehari-hari yang dikaitkan dengan Standar Nasional Pendidikan. Para guru berbagi pengalaman dalam menyelaraskan STEM dengan capaian pembelajaran, kerangka Standar Proses, hingga strategi penilaian untuk mengukur kompetensi murid.
Dalam menentukan tema, guru memanfaatkan isu lokal dan masalah nyata di lingkungan sekitar murid sebagai materi pembelajaran. Pendekatan ini terbukti mendongkrak keterlibatan aktif murid karena materi yang dipelajari terasa dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Diskusi Penerapan Pembelajaran STEM bersama Kepala Sekolah dan Guru
Melalui kegiatan di Kota Kupang ini, PSKP memperoleh berbagai informasi, pengalaman, serta praktik baik yang telah dikembangkan oleh satuan pendidikan. Data yang dihimpun akan dianalisis untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan dan praktik implementasi STEM yang dapat menjadi referensi bagi satuan pendidikan lain dalam mengembangkan pembelajaran STEM sesuai dengan karakteristik daerah, kebutuhan murid, dan ketersediaan sumber daya setiap sekolah.
Hasil kajian ini diharapkan tidak hanya menjadi referensi bagi sekolah lain dalam mengembangkan pembelajaran STEM yang adaptif, tetapi juga menjadi landasan kuat untuk melahirkan kebijakan pendidikan yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan tantangan masa depan. [Tatik Soroeida]