Kabar
Pendidikan Bermutu Menjangkau Ujung Negeri
Dalam momentum Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2026, saya ingin mengajak kita semua untuk merefleksikan potret pendidikan Indonesia dari ujung negeri; wilayah kepulauan terluar, daerah perbatasan, hingga ruang-ruang kelas sederhana. Saya menyaksikan keterbatasan tidak memadamkan pijar harapan dari sorotan mata dan raut wajah para guru, tenaga kependidikan, dan murid.
Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua—yang menjadi tema Hari Pendidikan Nasional tahun ini—menegaskan bahwa gotong royong dan kolaborasi merupakan pendekatan kunci. Semangat partisipasi dan kerja sama ini menjadi penekanan saya ketika berjumpa dengan para kepala daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, orang tua murid, dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya.
Intervensi kebijakan Presiden Prabowo Subianto di sektor pembangunan sumber daya manusia bersifat terintegrasi dan holistik. Kualitas proses pembelajaran akan berkembang di dalam ekosistem pendidikan yang menjamin kesejahteraan sosial muridnya (well-being student).
Getaran Transformasi
Setelah menghadiri Puncak Hari Pendidikan Nasional 2025 di Manokwari,Papua Barat, saya singgah di SDN Inpres 10 Mansinam. Amir, salah satu murid sekolah yang sedang bermain di pantai, mengajak saya menengok ruang kelasnya menjelang senja. Kepala sekolahnya bercerita bahwa sekolah ini dibangun tahun 1980.
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kita pernah mempunyai program SD Inpres sebagai bentuk intervensi masif negara untuk memperluas akses sekolah dasar pada era Presiden Soeharto melalui Instruksi Presiden No. 10 Tahun 1973. Sekolah di Pulau Mansinam ini terdaftar sebagai penerima bantuan Papan Interaktif Digital (PID), salah satu program hasil terbaik cepat Presiden Prabowo.
Di Kabupaten Sintang, saya terharu menyaksikan para guru bersuka cita menyambut kenaikan Tunjangan Profesi Guru dari 1,5 juta/bulan menjadi 2 juta/bulan. Saat mengunjungi kegiatan MPLS di Kota Ambon, saya merasakan komitmen kuat para guru untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi peserta didik.
Anak-anak PAUD Indo Tionghoa di Tarakan bersemangat mengikuti permainan edukatif dengan memanfaatkan PID. Pastur pengelola yayasan yang menyelenggarakan pendidikan di Kota Ende menyampaikan, rasa syukur atas kebijakan redistribusi guru ASN ke sekolah swasta.
Jika dulu yang paling mendesak adalah memperluas akses pendidikan dasar dengan membangun sekolah baru, kini tantangannya adalah memastikan anak-anak datang ke sekolah dalam kondisi sehat, belajar di ruang yang layak, dan memperoleh pengalaman pembelajaran yang menyenangkan.
Dalam konteks inilah program revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran melalui distribusi PID, profesionalisasi guru melalui program sertifikasi, dan Makan Bergizi Gratis (MBG) dimaknai dalam kerangka intervensi kebijakan yang terintegrasi untuk mendukung tercapainya standar proses pembelajaran yang holistik sebagaimana amanat Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026.
Banyak sekolah yang sudah berdiri puluhan tahun belum pernah direnovasi, tidak hanya sekolah swasta tetapi juga sekolah negeri. Namun, sekarang getaran perubahan itu terasa kuat ketika saya mengunjungi SMPN Teriak 3 Bengkayang, Kalimantan Barat. Sekolah ini merupakan satu dari 16.167 satuan pendidikan yang telah menerima bantuan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2025 dengan total alokasi anggaran Rp 16,9 triliun.
Tahun 2026 ini sudah dianggarkan Rp 14 triliun yang akan menyasar 11.474 satuan pendidikan. Presiden berjanji akan menambah lagi anggaran tersebut sehingga mencakup 71.000 satuan pendidikan. Adapun cerita dari PAUD Indo Tionghoa di Tarakan dan SD Kanisius di Wonogiri membuktikan bahwa perangkat PID telah menghidupkan suasana pembelajaran. Kemendikdasmen telah menyalurkan 288.865 unit PID pada 2025 sebagai bagian dari program digitalisasi pembelajaran.
Studi Shi dkk. (2021) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis papan interaktif dapat meningkatkan capaian kognitif siswa jika digunakan dengan pendekatan pedagogis yang tepat. Peningkatan kompetensi guru menjadi perhatian utama Presiden sehingga memerintahkan Mendikdasmen Abdul Mu’ti untuk mempercepat program sertifikasi guru yang menjadi amanat UU No. 14 Tahun 2025 tentang Guru dan Dosen.
Percepatan sertifikasi guru menunjukkan kemajuan signifikan. Dari sebelumnya sekitar 65 persen atau 1,9 juta guru pada 2024, jumlah guru yang telah tersertifikasi pada 2025 meningkat hingga sekitar 92 persen atau 2,7 juta guru. Beberapa guru dari Pulau Ende, Flores, menemui saya di penginapan akhir Desember 2025.
Mereka mengisahkan, kebahagiaannya saat menerima Tunjangan Profesi Guru tiap bulan dan disalurkan langsung ke rekeningnya. Janji Presiden di depan ribuan guru saat Perayaan Hari Guru Nasional tahun 2024 telah ditunaikan.
Pendidikan tidak dibangun dalam satu malam dan tidak bisa dinilai dari satu program, namun kerja panjang yang membutuhkan konsistensi, keberanian mengambil risiko, dan memastikan kehadiran negara sampai ke titik paling jauh.
Sumber: Pendidikan Bermutu Menjangkau Ujung Negeri – Radar Bandung