Kabar
Iran dan Resiliensi Intelektual
Oleh: Irsyad Zamjani
Kepala Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan
Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel sebelumnya diperkirakan akan seperti pertempuran Daud melawan Jalut atau Goliat. Berdasarkan data Global Fire Power 2025, Iran berada pada ranking ke-16, jauh di bawah AS yang memuncaki daftar. Belanja pertahanan Iran hanya 15,45 miliar dolar AS, atau hanya 1,7 persen belanja AS yang mencapai 895 miliar dolar AS. AS juga didukung Israel yang menempati ranking ke-15 dengan bujet sebesar 31 miliar dolar AS.
Akan tetapi, ini tampak hanya angka di atas kertas. Memang sudah ribuan warga Iran terbunuh, termasuk pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamenei. Sejumlah lokasi di Teheran dan kota lain luluh lantak oleh bom-bom kedua lawannya. Namun, Iran bukan Hamas.
Dalam beberapa hari terakhir kita menyaksikan teknologi militer Iran yang tidak bisa dibilang medioker. Setelah mengawali serangan balasan dengan rudal-rudal tua dan drone tempur ”murah” tapi mematikan, belakangan persenjataan balistik mereka mulai dipamerkan. Rudal-rudal jarak menengah dengan daya jangkau 800 hingga 2.500 kilometer seperti Shahab 3, Emad, Khorramshahr, hingga Sejjil mulai dikerahkan.
Bahkan, Iran dikabarkan telah menggunakan rudal hipersonik Fattah-2 yang mampu melesat hingga Mach-15 atau 18.000 km/jam. Rudal ini tidak mudah terlacak radar.
Manuver dan aset teknologi yang ditunjukkan Iran dalam perang kali ini adalah wujud resiliensi intelektual mereka. Selama lebih dari empat dekade sejak Revolusi Islam 1979, negeri ini menghadapi sanksi yang sangat ketat. Akses terhadap investasi global, komponen teknologi tinggi, hingga kerja sama penelitian internasional sangat terbatas. Dalam logika awam, kondisi seperti ini seharusnya melumpuhkan kapasitas inovasi teknologinya.
Namun, sebaliknya, Iran tetap mampu mengembangkan berbagai teknologi militer modern berdaya saing. Kendati mungkin belum sebanding dengan koalisi AS dan Israel, aset teknologi ini membantu meningkatkan kepercayaan diri mereka menghadapi perang besar.
Warisan Intelektual
Resiliensi yang mengilhami keberlanjutan berbagai inovasi teknologi tersebut tentu tidak muncul dalam ruang hampa. Ia berakar pada tradisi yang panjang dalam sejarah. Iran adalah ahli waris Persia, bangsa para penakluk seperti Cyrus dan Darius Agung. Kawasan ini sejak lama juga jadi salah satu pusat penting perkembangan ilmu pengetahuan dunia.
Dalam karyanya The Islamic Intellectual Tradition in Persia, yang berisi 24 esai tentang para pemikir Muslim Persia klasik, cendekiawan Iran, Seyyed Hossein Nasr, menyebut budaya Persia sebagai bahasa intelektualisme Islam. Budaya ini menjadikan filsafat, sains, dan spiritualitas sebagai pembentuk identitas peradaban Islam.
Para ilmuwan dan filsuf Persia memainkan peran penting dalam membangun fondasi intelektual dunia Islam sekaligus menjadi jembatan bagi transmisi pengetahuan Yunani ke Eropa. Kitab al-Qanun fi al-Thibb karangan raksasa keilmuan Persia, Ibn Sina atau Avicenna, menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di Eropa selama berabad-abad.
Tanah Persia juga melahirkan matematikawan penemu algoritma Al-Khawarizmi, penemu kimia Jabir ibn Hayyan, mistikus Al-Rumi, sejarawan Al-Thabari, sastrawan Al-Khayyam dan Hafez, hingga astronom Nasir al-Din al-Thusi. Yang disebut terakhir adalah pendiri observatorium Maragha yang menjadi pusat penelitian astronomi terbesar pada abad ke-13.
Dalam era modern, aktivitas produksi pengetahuan ini tetap berlangsung di tengah sanksi dan keterbatasan. Studi yang dirilis Stanford Iran 2040 Project dari Universitas Stanford (Sadeh dkk, 2019) menunjukkan ilmuwan Iran termasuk yang paling produktif secara global.
Pada 2018, terdapat 50.000 publikasi akademik para peneliti Iran, secara konsisten meningkat dari hanya 1.000 pada 1997. Tingkat pertumbuhan ini melampaui raksasa Asia, seperti China dan Korea Selatan. Publikasi ini didominasi oleh bidang ilmu dasar (41 persen), kedokteran (22 persen), dan teknik (22 persen).
Ekspansi produktivitas akademik ini memang dikritik dalam hal integritas dan perannya yang minim dalam mendongkrak ekonomi domestik. Ini tentu dipengaruhi oleh berbagai sanksi ekonomi yang mereka terima.
Teologi Perlawanan
Faktor penting lain penyumbang resiliensi intelektual Iran adalah perkembangan teologi Syiah di wilayahnya. Syiah sendiri pada dasarnya juga memiliki DNA intelektualisme dari keteladanan Ali ibn Abi Thalib, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad yang menjadi simbol intelektual Islam awal dan figur penting dalam teologi Syiah.
Namun, DNA utama para penganut Syiah adalah perlawanan. Juan Cole dan Nikki Keddie (1987) menyebut Syiah sebagai ”agama protes”. Secara historis, teologi ini lahir dari perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan pada keluarga Nabi sebagai ahli waris sah kepemimpinan politik keagamaan pascakenabian.
Pembunuhan Husein ibn Ali di Karbala oleh Yazid ibn Muawiyah pada tahun 680 makin meneguhkan perlawanan dan kepahlawanan sebagai bagian dari teologi mereka. Syiah mendominasi Iran sejak abad ke-16, saat Dinasti Safawi berkuasa.
Setelah revolusi Islam 1979, ideologi perlawanan ini dilembagakan secara politik kenegaraan. Meski mengadopsi sistem pemerintahan republik modern ala Amerika sebagai ganti monarki para Syah, Iran pasca-revolusi dibangun di atas legitimasi konservatisme Islam Syiah.
Ini memberi para mullah kedudukan tertinggi sebagai pemimpin spiritual sekaligus basis perlawanan terhadap Amerika, Israel, dan negara-negara Barat lain yang selama bertahun-tahun menyokong rezim monarki. Narasi perlawanan ini terus dirawat melalui doktrin politik dan disosialisasikan melalui sejumlah lembaga.
Oleh karena itu, alih-alih mematikan kapasitas inovasi, berbagai sanksi internasional justru mempercepat proses kemandirian teknologi Iran. Lebih-lebih pada bidang-bidang yang mendukung doktrin perlawanan mereka: persenjataan perang.
Biaya Sosial
Namun, terlepas dari resiliensi yang ditunjukkan, biaya yang ditanggung Iran dari berbagai sanksi internasional sangatlah besar. Selain ekonomi, selama bertahun-tahun warga Iran juga menanggung biaya sosial yang sangat mahal. Paspor Iran tidak lagi ”sakti” seperti era Syah, membatasi mobilitas dan jejaring para akademisinya. Sebuah ironi untuk negara dengan peringkat IQ rata-rata tertinggi keempat di dunia (104,8 menurut International IQ Test 2026).
Seperti ditulis Irina Dezhina dalam Science under Sanctions: the Experience of Iranian Universities (2022), sanksi internasional membuat kampus-kampus di Iran harus berjuang sendiri untuk bertahan. Aktivitas riset mereka banyak beroleh dukungan dari para diaspora Iran di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat.
Fenomena brain drain menjadi salah satu tantangan serius bagi Iran. Banyak ilmuwan dan mahasiswa berbakat memilih berkarier di luar negeri demi akses lebih luas terhadap fasilitas penelitian dan kebebasan akademik. Laporan Emirate Policy Forum mengungkap pada Januari 2022, 82-83 dari 86 warga Iran pemenang kompetisi sains internasional meninggalkan negaranya untuk tinggal di luar negeri.
Eskalasi perang juga berpotensi menciptakan dampak lebih luas, termasuk pada pendidikan. Studi terbaru (Anh dkk, 2025) mengungkap dampak jangka panjang perang Iran-Irak (1980-1989). Generasi yang terpapar perang, lahir antara 1971-1981, memiliki capaian pendidikan yang sangat rendah dibandingkan yang lahir sebelum atau sesudahnya.
Sistem politik Iran hari ini mungkin tidak ideal. Namun, pertumpahan darah, apalagi lewat agresi yang bertentangan dengan hukum internasional, bukan jalan bermartabat untuk mendorong perubahan. Bangsa Iran perlu didukung untuk menemukan jalan transformasi yang lebih damai dan berkelanjutan. Dunia akan rugi jika sebuah bangsa dengan warisan intelektual yang begitu panjang tidak dapat melanjutkan kontribusinya dalam perjalanan peradaban manusia.
Sumber: Iran dan Resiliensi Intelektual