Kabar
PSKP Gelar Pelatihan Penulisan Artikel JPKP Perkuat Kapasitas Penulis Kebijakan Pendidikan
PSKP, Jakarta – Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Artikel JPKP untuk memperkuat kapasitas penulis dalam menghasilkan artikel kebijakan pendidikan yang berkualitas. Pelatihan ini membekali peserta dengan karakteristik artikel kebijakan pendidikan, teknik penulisan ilmiah, penyusunan argumentasi berbasis data, penulisan rekomendasi kebijakan yang aplikatif, serta pemahaman proses editorial dan telaah sejawat (peer review). Peserta juga mendapat pendampingan untuk menyempurnakan naskah berdasarkan masukan narasumber dan editor.
JPKP berada di bawah pengelolaan PSKP dan telah terakreditasi Sinta 2. Sebagai jurnal Kemendikdasmen, JPKP dituntut menghasilkan artikel berkualitas yang relevan dengan kebijakan Kemendikdasmen, baik yang sedang diformulasikan, dikembangkan, maupun telah diimplementasikan. Artikel-artikel yang diterbitkan juga menjadi salah satu rujukan penyusunan kebijakan pendidikan berbasis data karena telah teruji secara empiris.
Pelatihan ini menyasar peneliti, analis kebijakan, akademisi, pengawas, kepala sekolah, guru, pamong belajar, widyaiswara, dan praktisi pendidikan agar mampu menyusun artikel ilmiah sesuai kaidah akademik serta ruang lingkup dan standar publikasi JPKP. Peserta diharapkan mampu menyajikan hasil penelitian secara sistematis, logis, kritis, dan berbasis bukti, lengkap dengan implikasi kebijakannya, hingga menghasilkan satu artikel yang memenuhi standar JPKP untuk selanjutnya dikirim (submit) melalui mekanisme publikasi yang berlaku.
Melalui pelatihan ini, PSKP berharap kualitas dan kuantitas naskah yang masuk ke JPKP meningkat, proses editorial berjalan lebih efektif, tingkat penerimaan artikel (acceptance rate) naik tanpa mengurangi standar mutu, serta reputasi dan akreditasi jurnal turut terdongkrak.
Pelatihan dirancang secara daring dalam dua tahap. Tahap pertama berupa pelatihan tiga hari pada 20–22 Mei 2026, dilanjutkan tahap kedua berupa coaching clinic pada 19 Juni 2026. Tahap pelatihan diisi dengan penyampaian materi, diskusi, dan perbaikan artikel sesuai templat serta panduan penulis JPKP, sedangkan tahap coaching clinic diisi dengan telaah artikel dan diskusi sebagai bentuk pendampingan bagi peserta untuk menyempurnakan naskah berdasarkan umpan balik narasumber.
Sesi Pelatihan
Sesi pelatihan diikuti oleh 122 peserta dari berbagai profesi, masing-masing dengan naskah yang sudah lengkap dan siap ditinjau. Narasumber pelatihan berasal dari kalangan akademisi dan peneliti berpengalaman dalam publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional, yang juga aktif sebagai reviewer maupun editor di berbagai jurnal, termasuk JPKP, yaitu Anggi Afriansyah (peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN), Lara Fridani (peneliti pada Center for Empowerment and Research, Melbourne, Australia), dan Prof. Anita Lie (Guru Besar Universitas Katolik Widya Mandala).
Pada sesi pembukaan, Kepala PSKP Irsyad Zamjani menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan forum penting bagi calon penulis maupun pengelola JPKP agar proses penerbitan artikel dapat berjalan baik, lancar, dan tepat waktu. “Kami ingin meningkatkan kualitas jurnal dari sisi substansi maupun tata kelola. Kami berharap para penulis JPKP berevolusi, tumbuh, dan berkembang bersama untuk menghasilkan artikel yang berkualitas yang memenuhi standar JPKP,” ujarnya.
Pada hari pertama, 20 Mei 2026, Linda Efaria selaku ketua tim penerbitan JPKP menyampaikan materi tentang karakteristik naskah yang ditolak, diterima, hingga diterbitkan di JPKP. Materi berikutnya dari Anggi Afriansyah menjelaskan perencanaan penulisan artikel, penentuan judul, penulisan abstrak sesuai kaidah ilmiah dan panduan JPKP, serta etika penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam penulisan artikel ilmiah.
Dalam paparannya, Linda menegaskan bahwa keberhasilan publikasi di JPKP tidak hanya ditentukan oleh kualitas hasil penelitian, tetapi juga kepatuhan penulis terhadap kaidah ilmiah, gaya selingkung jurnal, dan proses publikasi melalui Open Journal System (OJS). Artikel yang diterbitkan, menurutnya, harus menyajikan analisis kebijakan berbasis bukti, memiliki struktur penulisan yang kuat, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret, operasional, dan dapat diimplementasikan.
Senada dengan itu, Anggi menekankan bahwa kualitas artikel ilmiah tidak semata ditentukan oleh hasil penelitian, tetapi juga ketelitian dalam menyajikan metodologi dan kedalaman pembahasan. “Sebuah artikel layak dipublikasikan jika research gap yang disajikan sudah jelas, mengangkat persoalan nyata di lapangan, dan menawarkan kebaruan melalui analisis yang didukung kajian literatur,” jelas Anggi. Ia menambahkan, pemanfaatan kecerdasan buatan diperbolehkan sebagai alat bantu, misalnya untuk penelusuran literatur, parafrase, penyuntingan bahasa, dan proofreading, tetapi tetap tidak dapat menggantikan peran penulis.
“AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti penulis. Tanggung jawab mutlak atas keakuratan data, orisinalitas, kualitas analisis, dan integritas ilmiah tetap sepenuhnya berada pada penulis. Oleh karena itu, setiap keluaran AI harus dikaji, diverifikasi, dan disesuaikan dengan konteks akademik agar artikel yang dihasilkan tetap valid, bermutu, dan memiliki kontribusi ilmiah yang nyata,” tegas Anggi.
Pada hari kedua, 21 Mei 2026 Lara Fridani membekali peserta dengan materi penulisan pendahuluan, studi pustaka, teknik parafrase, penulisan daftar pustaka sesuai gaya APA edisi ke-7, serta penulisan metodologi. Menurutnya, kredibilitas penulis diuji dari cara mereka mengutip gagasan orang lain. Menemukan sumber bereputasi adalah keharusan, tetapi cara menuliskannya kembali agar terhindar dari plagiarisme sama pentingnya.
Pada hari ketiga, 22 Mei 2026 Prof. Anita Lie membekali peserta dengan penulisan temuan penelitian, pembahasan, simpulan, dan rekomendasi kebijakan, hingga teknik self-reviewing dan self-editing. Menurutnya, esensi penulisan pembahasan adalah mengubah informasi menjadi pengetahuan dengan menghubungkannya pada teori atau penelitian terdahulu, mengikuti hierarki data: data mentah → informasi → pengetahuan → kearifan (wisdom).
Pembahasan juga harus koheren dengan lensa teori yang telah disebutkan pada kajian pustaka, dan penulis disarankan mensitasi ulang teori tersebut untuk menunjukkan kesinambungan alur. Anita mengingatkan peserta agar menghindari cherry-picking, generalisasi berlebihan (over-generalization), serta memasukkan temuan baru yang tidak tercantum pada bagian hasil.
Sesi Coaching Clinic
Tahap lanjutan pelatihan adalah coaching clinic yang hanya diikuti peserta dengan naskah yang telah lolos seleksi. Ketentuan seleksi meliputi kesesuaian naskah dengan standar dan kaidah penulisan artikel ilmiah, kepatuhan terhadap panduan penulis dan templat JPKP, serta kesesuaian topik dengan kebijakan prioritas Kemendikdasmen. Dari seluruh peserta, 12 artikel dinyatakan lolos ke tahap coaching clinic. Pada tahap ini, setiap artikel ditelaah oleh narasumber dan peserta memperoleh umpan balik langsung, dilengkapi diskusi interaktif untuk memperdalam hasil telaah sebagai bahan penyempurnaan naskah sebelum dikirim dan diterbitkan di JPKP.