Kabar
Indonesia Perkuat Kapasitas Kebijakan TVET melalui Pelatihan Digital APEC di Korea Selatan
PSKP, Seoul – Transformasi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan teknologi digital mengubah kebutuhan kompetensi dunia kerja secara cepat. Kondisi tersebut mendorong sistem pendidikan dan pelatihan vokasional atau Technical and Vocational Education and Training (TVET) di berbagai negara untuk terus beradaptasi agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan industri.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kebijakan pendidikan vokasi di kawasan Asia-Pasifik, Kementerian Pendidikan Republik Korea bersama Institute of APEC Collaborative Education (IACE) menyelenggarakan APEC Digital Education Policy Training (ADEPT) 2026 pada 1–9 Juli 2026 di Seoul, Korea Selatan.
Acara Ini merupakan tindak lanjut Pertemuan Menteri Pendidikan APEC (APEC Education Ministerial Meeting/AEMM) sekaligus mendukung tema APEC 2026, "Building a Sustainable Tomorrow: Connect, Innovate, Prosper." Kegiatan tersebut diikuti delegasi dari berbagai negara anggota APEC, di antaranya Indonesia, Brunei Darussalam, Vietnam, Filipina, Thailand, Papua Nugini, Peru, Chile, dan Korea Selatan.
Melalui ADEPT 2026, para peserta memperoleh ruang untuk berbagi pengalaman, kebijakan, serta praktik baik mengenai transformasi digital dalam pendidikan vokasi. Forum ini juga menjadi wadah kolaborasi antarnegara dalam merumuskan strategi pengembangan TVET yang adaptif terhadap perkembangan AI dan ekonomi digital.
Transformasi AI Menjadi Agenda Strategis Pendidikan
Salah satu agenda utama pelatihan adalah kunjungan ke Kementerian Pendidikan Korea Selatan, yang memaparkan arah kebijakan nasional bertajuk AI for All: National Strategy for Developing AI Talent.
Pemerintah Korea Selatan menempatkan AI sebagai kompetensi dasar yang perlu diperkenalkan di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, hingga pendidikan vokasi. Strategi tersebut bertujuan membangun ekosistem pendidikan yang mampu menyiapkan talenta AI secara berkelanjutan serta memperkuat posisi Korea Selatan sebagai salah satu pemimpin global di bidang kecerdasan artifisial.
Dalam paparannya, Kementerian Pendidikan Korea Selatan juga menekankan bahwa berbagai pekerjaan berbasis administrasi, pengolahan informasi, produksi konten sederhana, maupun analisis rutin makin berpotensi digantikan oleh AI. Sebaliknya, kemampuan seperti berpikir kritis, pengambilan keputusan kompleks, kreativitas, empati, dan kecerdasan emosional dipandang tetap menjadi kompetensi utama yang harus dikembangkan melalui sistem pendidikan.
Selain itu, delegasi juga mengunjungi Korean Skills Quality Authority (KSQA) untuk mempelajari sistem penjaminan mutu pelatihan vokasi di Korea Selatan. Lembaga tersebut memiliki fungsi yang serupa dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di Indonesia, yaitu memastikan kualitas penyelenggaraan pelatihan serta sertifikasi kompetensi tenaga kerja melalui standar nasional yang terintegrasi.
Berbagai materi yang dibahas mencakup perkembangan kebijakan pelatihan vokasi di Korea, sistem sertifikasi kompetensi, hingga pentingnya manajemen mutu dalam menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Selain itu, peserta juga mengunjungi Gangdong Women Career Development Center untuk mempelajari pengembangan kompetensi dan peningkatan partisipasi perempuan dalam dunia kerja melalui pendidikan dan pelatihan vokasional yang responsif terhadap kebutuhan industri.
Delegasi Indonesia Menyampaikan Action Plan Pengembangan Kebijakan TVET di Indonesia